Begini Model Kerjasama Smartfren dan Bakrie Telecom

JAKARTA, KOMPAS.com - Dua operator CDMA, PT Smartfren Telecom, Tbk. (Smartfren) dan PT Bakrie Telecom, Tbk. (BTEL) telah mengumumkan kerjasama jaringan pada Senin (3/11/2014) lalu.

Direktur Smartfren, Merza Fachys mengatakan, dengan kesepakatan tersebut, maka konsekuensinya adalah frekuensi yang dimiliki Bakrie Telecom akan dialihkan untuk smartfren sebagai penyedia jaringan.

"Frekuensi yang digunakan Btel (Bakrie Telecom) juga akan digunakan untuk penyelenggaraan jaringan," demikian ujar Merza saat dijumpai di acara temu media pada Rabu (5/11/2014) di Jakarta.

Menurut Merza, pembicaraan antara Smartfren dan Bakrie Telecom akhirnya mencapai kesimpulan bagaimana membentuk suatu konsolidasi yang spiritnya adalah penyehatan industri telekomunikasi CDMA.

Sebagaimana kita ketahui, dengan adanya Peraturan Menteri Kominfo Nomor 30 Tahun 2014 tentang Penataan Frekuensi 800 MHz, maka operator CDMA di Indonesia saat ini menyisakan tiga pemain, yaitu Sampoerna, Bakrie Telecom dan Smartfren

"Sampoerna memiliki agenda lain frekuensi 450, Btel dan Smartfren memiliki agenda lain kebetulan di frekuensi 850, di situlah muncul diskusi peluang melakukan konsolidasi industri CDMA yang tujuannya benar-benar menyehatkan berdua agar ke depannya lebih bagus," ujar Merza.

Ditambahkan Merza, konsep kerja sama jaringan yang akan diterapkan antara Smartfren dan Bakrie Telecom bukanlah konsep baru, melainkan sudah ada sejak dua tahunan yang lalu.

"Konsepnya tidak baru, ada konsep penyedia jaringan dan penyedia layanan. Konsep seperti itulah yang kita rundingkan dan sepakat sebagai net co (penyedia jaringan-red.) adalah Smartfren, dan Btel akhirnya sebagai service co (penyedia jasa-red.)," demikian terang Merza.

Ditambahkan Merza, konsep seperti itulah yang diharapkan Smartfren dan Bakrie Telecom akan bisa mengangkat kemampuan masing-masing operator seluler baik dari segi komersil maupun operasional.

Dalam masa penggabungan tersebut, Merza juga memastikan bahwa pelanggan Smartfren dan Esia tetap bisa menikmati layanan secara normal. "Di mata pelanggan, penyelenggara layanan seluler itu harus jelas, mereka juga tidak akan merasakan apa-apa, tetap normal seperti biasa."

"Nantinya setelah menjadi satu network juga tidak akan dirasakan pelanggan, mereka tetap dilayani sepeti biasa," pungkasnya.

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas